Bangun dan Banjir

Hari ini suami saya sangat sedih sekali. Salah seorang sahabat dekat nya (saya bisa bilang sahabat paliiiinnnggg dekat beliau) meninggal dunia di Jakarta. Sebenar nya meninggalnya kemarin jam 10am, tapi suami saya dan seorang lagi sahabat dekatnya di Bahrain baru tahu kabar itu sore ini.

Namanya Bangun, anak batak. Suami saya, Bangun dan Awin, mereka bertiga teman sepermainan dari kecil sampai sekarang. Kebetulan mereka tinggal berdekatan (area Pulo Gadung). Ketika SMA dan kuliah hanya suami saya dan Awin yang masuk sekolah dan kampus yang sama. Bangun kuliah di UKI. Entah kenapa ketika tiba saat nya mencari kerja, Bangun tidak seberuntung suami saya dan Awin. Kehidupan Bangun yang saya tahu agak sedikit berantakan. Tapi mereka bertiga tidak bisa terpisahkan. Bahkan ketika kami sudah pindah ke Kalimantan, mereka bertiga tetap saling telpon dan kalau cuti hukumnya "wajib" buat ketemuan. Baik hanya sekedar ngumpul di rumah mertua saya atau jalan bareng cari makan dan main billyard. Mereka bertiga "Billyader sejati"..;P, kalau sudah nongkrong di arena billyard bisa nggak inget pulang.

Terakhir saya dan suami bertemu Bangun di Jakarta tahun 2006, bulan April kalau tidak salah. Saat itu suami saya sudah akan berangkat ke Singapore. Saya yang mengantarkan beliau ikut mampir dulu ke Jakarta, selain sungkem untuk Mama-Papa, juga untuk farewell dengan Bangun dan Awin. Malam itu saya, suami, Omi (adik suami saya) dan Awin jalan satu mobil untuk ketemuan dengan Bangun yang naik motor kebanggan nya. Kita ketemuan di tempat Billyard (lupa namanya). Bangun ceria sekali, mungkin karena kumpul2 lagi dengan teman2 baik nya. Setelah itu kita makan di Chitos, disini saya merasa Bangun agak sedikit sedih. Dia sempat menyinggung jalan hidup nya yang berbeda dengan suami dan Awin. Tapi he keeps smiling. I like his smile…dia batak sejati, kalau kata saya..;). Bangun sempat bilang kalau dia bakalan nyusul suami saya, "seenggak nya maen lah!" ke Singapore. Suami kelihatan senang sekali. Malam itu kita habiskan dengan putar2 Jakarta dan terakhir kita ke Cengkareng jam 4am untuk mengantar saya balik ke Balikpapan, suami ke singapore siang nya.

Beberapa bulan kemudian Awin pindah untuk kerja ke Bahrain. Saya dengar cerita2 dari suami kalau Bangun sedih karena tinggal dia sendiri di Jakarta. Awin sering cerita kalau Bangun sudah sering dia bantu untuk kerja di beberapa perusahaan, tapi entah kenapa selalu batal atau gagal.

….

Siang ini, tiba2 masuk SMS dari Awin. "Gw dapet kabar dari Gorga, katanya Bangun meninggal karena kesetrum ketika banjir kemaren. Coba chek ke Jakarta, gw takutnya kabar itu benar". Suami langsung kalang kabut telpon ke Jakarta, info dari Papa memang ketika banjir kemarin ada kabel listrik yang putus dan kabarnya memang ada yang meninggal. Tapi tidak tahu apakah Bangun atau bukan. Beberapa menit kemudian Awin sms lagi "Betul, Bangun sudah meninggal jam 10am kemarin….hiks…hiks….", baik Awin dan suami kelihatan terpukul sekali. Tidak berapa lama kemudian suami saya bicara dengan Awin di telpon, ternyata Awin akan berangkat ke Jakarta tgl 6 Feb besok. Suami saya juga minta ijin untuk ikut ke Jakarta. Memberikan penghormatan terkahir untuk Bangun….

Saya sedih sekali mendengar nya, apalagi melihat suami yang sangat terpukul sekali. Dia diam saja sepanjang sore ini. Satu sisi yang benar2 baru sekali ini saya lihat….

Bagun dan banjir…yang saya dengar, kabel listrik itu putus karena banjir. Kabarnya di dareah Pulo Gadung banjir nya sampai 1mt, mugkin kabel tersebut tidak kuat menahan terpaan hujan dan angin yang terus2 menerus beberapa hari kemarin, mungkin juga karena kabel nya sudah bobrok. Yang jelas jatuhnya kabel itu ke tanah ditambah air yang menggenangi rumah bangun telah membuat beliau pergi untuk selamanya. Disisi lain, mungkin itu memang rencana Tuhan untuk Bangun, dan situasi Jakarta yang jadi perantara nya.

Yang paling menyedihkan dari semua ini, entah kenapa saya merasa Bangun pergi ketika mimpi2 nya belum menjadi kenyataan…

Selamat jalan Bangun, mudah2 an kehidupan di alam sana akan lebih baik untuk kamu. Semoga Tuhan menerima kedatangan mu dengan hangat dan mendamaikan mu selamanya di sisi-Nya. Amin.

4 Responses to “Bangun dan Banjir”

  1. Renatha Says:

    Turut berduka cita ya.

  2. Bornaomi Says:

    Thanks ya Re..

  3. Lia Says:

    Sedih ya Bonnie.. hiks. Semoga yg terbaik buat Bangun n yg ditinggalkannya.

  4. Bornaomi Says:

    Huaaa…sedih lagi deh Li…Besok Sabtu si Uda mau berangkat ke Jakarta..doain juga semua baek2 aja, terutama keadaan di Jakarta. Amin.

Leave a Reply